Narasi Hilang Arah

Bermain-main Alegori di arena Sintagma

“There’s a truth behind the cry, there’s a cry behind the lie” (Letto).

Hujan musim kering sepertinya begitu diharapkan. Benarkah? Suatu kondensasi yang akan merusak tatanan, tentu saja. Kelembaman terhadap sebuah orde sangat mungkin luluh lantak menyerpih oleh hujan yang “sepertinya diharapkan”. Segera saja bintik hitam terbakar mewabah disetiap hehijauan. Tidak sedikit pucuk mengering tanpa sebab selain hujan. Bukankah hujan adalah keberkahan? Apakah hehijauan sudah tidak mampu lagi berdendang menari bersama hujan?

Aku bahkan kurang mahfum terhadap kandungan asam yang terikat bersama air hujan yang “sangat diharapkan” seperti itu. Partikel debu, asap dan racun dalam bilangan “banyak” sangat akrab memeluk “hujan” ini. Lalu siapa yang butuh hujan ini? Mekanismenya menuntut naskah cerita yang berbeda. “Fuzzy” menjadi satu kosa kata pelumrahan rencana Tuhan. Kulihat itu di setiap hal yang alami. Iluminasi terlena di tahta tertinggi “logika” sepanjang rentang waktu, bahkan sebelumnya, bahkan setelahnya. Hujan kah yang keliru ketika bilangan biner pertama kali teridentifikasi? “Ganjil-genap” menderita kehilangan nilai takarnya semestinya telah terdekadensi. Jangan tertawa (tidak tercantum dalam LEAD), semestinya “anigma” itu terkubur tanpa kremasi atau bebankan saja ke alam bahasa. Anigma adalah ketiadaan yang mengada. Anigma tidak pernah similar dengan utopis. Tidak juga dengan quiz atau tekateki silang karena memiliki jawaban.harusnya memang tidak ada, tapi Keberadaannya seperti darah dalam garis hidup. Anigma menghadang di depan jalan dan sangat kokoh. “Who the idiot to taking over? Who the idiot which token over?” There’s a truth behind the cry!

Apakah orde itu berarti ritme gerak terpola melingkar pada ragam frekuensi dengan pengulangan sempurna. Bukankah orde memang bermakna keteraturan dan disiplin manut-manut. Sentrum pada poros mengakibatkan stagnansi. Bukan tidak mungkin lingkaran seperti ini menghasilkan badai Tornado. Aku mulai bertanya mengapa buaian itu menipu si kecil untuk berhenti meretas dunianya? Lalu dititik yang mana pula ujung lingkaran itu berada? Tanpa batas adalah penjara. “Pembebasan” yang terletak di salah satu sudut persimpangan berujung di balik mata malah menjerat sekuatnya. Aku bahkan tidak butuh deskripsi lebih terhadap kelihaian menipu diri. Apakah anigma lagi yang harus duduk di kursi terdakwa? Bukan, iluminasi bertutur bukan. Kelihaianlah yang telah menciptakan jebakan lingkaran. Kemana arah tornado berputar? There’s a cry behind the lie!

Puing-puing sisa Tornado ternyata bukan sampah. Ada yang bilang pertikaian ini harus berakhir dengan diplomasi baru. Baiklah, jika itu benar mari melupakan anigma. Mari menghilangkan tanda Tanya. Ini hilang arah. Mari bunuh diri!

dkDN @AutiStudio, akhir Januari 2010

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!